BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Islam bukanlah sekadar agama yang membangun
spiritual sesuatu masyarakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima
waktu, puasa, zakat dan Haji. Lebih daripada itu Islam adalah cara hidup (way
of life).
Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, manusia
hanyalah subyek yang menemukan, mengolah, dan merumuskan sehingga lahir sebuah
teori. Manusia bukanlah pencipta, atau pembuat dari tidak ada menjadi ada.
Sekecil dan sesederhana apapun ilmu pengetahuan itu, sumbernya tetap dari Alla
SWT. Karena itu manusia dilarang menyembongkan diri, seakan-akan dialah yang
menghasilkan ilmu itu tanpa campur tangan Allah.Manusia dilarang mengingkari
ayat-ayat, bukti-bukti kebenaran yang Allah tunjukan kepada manusia itu.
Ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini, baik
tentang manusia atau alam secara keseluruhan, hanyalah merumuskan hokum-hukum,
prinsip-prinsip yang telah adadi alam, yang oleh Allah di dalam al-Qur’an
disebut “Sunnatullah”. Dari hokum dan prinsip yang ada di alam itu para
ilmuwan mengembangkan teori. Apabila kini orang mengatakan ilmu pengetahuan dan
juga teknologinya sudah maju dengan pesat, sudah mencapai tingkat yang sangat
mengagumkan, kita tidak dapat membuat kalkulasi berapa persen pengetahuan yang
telah mampu digali oleh manusia dari pengetahuan yang Allah turunkan dalam
bentuk wahyu dan dalam bentuk sunnatullah. Manusia tidak dapat membuat prediksi
kandungan pengetahuan di alam ini. Setiap masa, ilmuwan selalu menghasilkan
penemuan-penemuan baru diberbagai bidang, diberbagai disiplin ilmu.
Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang
bersumber dari alam ini, Allah memerintahkan agar kita selalu menggalinya,
melakukan perjalanan, pengamatan, penelitian.Namun dalam malakukan hal
tersebut, kita tetap harus selalu mengaitkannya dengan sumber ilmu pengetahuan
dari Allah yaitu Al-Qur’an.Hal ini berkaitan dengan pandangan ilmu tauhid dalam
penggalian ilmu pengetahuan yang ada di alam ini.Sehingga dalam penemuannya,
ilmu pengetahuan yang baru tetap pada batasan ketauhidan dalam Islam.
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut,
agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan,
maka penulis mengemukakan bebe-rapa rumusan masalah. Rumusan masalah
itu adalah:
1.
Apa pengertian tahuid dan
ilmu pengetahuan?
2.
Apa hubungan antara tauhid
dan ilmu pengetahuan dalam Islam dan Dalil Naqlinya?
3.
Bagaimana integrasi antara
ilmu pengetahuan dan agama?
Berdasarkan
tinjauan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah pada ini yaitu
sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian tauhid dan ilmu pengetahuan.
2. Mengetahui hubungan antara tauhid dan ilmu pengetahuan
dalam Islam dan dalil naqli.
3. Mengetahui integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama.
Mengingat
begitu banyaknya pembahasan masalah mengenai uraian masalah diatas, maka
penulis membatasi pembahasan tentang makalah ini sesuai dengan yang terdapat
dalam rumusan masalah.
PEMBAHASAN
Istilah tauhid secara etimologis berasal dari kata wahhada,
yuwahhidu, tauhîdan, yang artinya mengesakan, menyatukan. Jadi tauhid adalah
suatu agama yang mengesakan Allah. Dalam ilmu Ushuluddin, tauhid dibagi
menjadi dua kategori, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah.
Esensi atau pokok tauhid adalah menyadarkan kepada manusia, kaum
beriman, bahwa Allah eksistensinya tunggal, kita mempunyai akidah dan keyakinan
bahwa Allah maha esa, tidak tertandingi, tidak dapat disamakan, tempat
bergantung segala makhluk, serba sempurna, serba maha suci, sehingga ada dua
puluh sifat Allah dalam Ilmu Kalam.[1]
Disamping itu, ada pengertian tauhid rububiyah, dalam arti
bahwa Allah Rab, Tuhan, yang memperhatikan, take cere, mengatur,
menyantuni, memberi supervisi secara detail, dan teliti terhadap segala makhluk
yang telah diciptakannya. Dengan kata lain, sesunguhnya setiap makhluk yang
kelihatan ataupun yang tidak, selama hidupnya berada dalam suvervisi, dalam
pengawasan dan penanganan Allah.[2]
Menurut Amin Rais tauhîdullah, sesungguhnya menurunkan atau
mengisyaratkan adanya lima paket pengertian, Pertama, tauhîdullah
jelas mengajarkan kepada manusia untuk harus beriman tentang adanya Unity of
Godhead, yaitu kesatuan ketuhanan. Kedua, kesatuan ketuhanan ini
pada konsekwensi logisnya menimbulkan Unity of Creation, kesatuan
penciptaan. Seluruh makhluk di alam semesta ini, baik yang kasat mata maupun
yang tidak kelihatan, baik yang bisa dideteksi, diobservasi, diukur dengan
alat-alat pengukuran maupun diluar itu,
yang ghaib maupun yang lahir, dalam konsep tauhid semua merupakan
ciptaan Allah. Ketiga, konsekwensi berikutnya, karena umat manusia
merupakan bagian dari makhluk Allah,
maka tentu kita harus percaya akan adanya Unity of Mankind, kesatuan
kemanusiaan. Jadi semboyan mankind is one-terlepas dari warna kulit, latar
belakang, bahasa, geografi, sejarah dan segala macam perbedaan yang
melatarbelakangi keragaman umat manusia tidak menghilangkan pengertian substantive
atau principal bahwa didunia ini ada kesatuan kemanusiaan.[3]
Keempat, karena ada kesatuan kemanusiaan, tentu ada Unity of
Guidance, kesatuan pedoman hidup bagi orang beriman dan pedoman hidup itu
adalah wahyu Allah SWT.
Jadi karena manusia adalah ciptaan Allah, maka hanya Allah zat yang
paling mengetahui kemana manusia harus pergi, usaha apa yang harus dilakukan
manusia agar tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kelima,
karena ada Unity of Guidance, maka hidup kita di alam fana ini akan
bermuara kepada akhir yang sama. Sehingga tujuan hidup manusia seharusnya sama
secara konseptual dan teoritis, yaitu adanya Unity of The Porpose of Life,
adanya satu kesatuan tujuan hidup.[4] Oleh karena itu perbedaaan profesi, inklinasi,
menempuh beragam orientasi hidup, tetapi didalam konsep yang paling dasar
karena manusia adalah satu, pedoman hidupnya adalah satu, maka tujuan hidup
manusia juga adalah satu yaitu mencari mardhatillah (keridhaan
Allah).
Pengertian ini dapat dijabarkan lebih lanjut, yang meliputi: Pertama, seorang muslim harus berani
mengatakan tidak pada kebatilan, pada
segenap manifestasi thâghûth,[5]
dan pada setiap kebenaran. Jadi, kalau semangat tauhid merosot, maka keberanian
untuk mengatakan tidak sama saja, yaitu akan mengalami kemerosotan juga.
Padahal seorang muslim adalah orang yang mengatakan walam yakhsya illa Allah.
Kedua, setelah seorang bertauhid meniadakan apa-apa yang selain Allah,
kemudian beriman kepada Allah dengan keyakinan yang penuh sehingga keyakinan
itu menjadi utuh. Tauhid dalam tingkatan ini meyakini bahwa kebenaran hanya
datang dari Allah, (Q.S. Yunus, [10]: 35). Ketiga, manusia muslim
mempunyai proclamation atau declaration of life, proklamasi atau
deklarasi kehidupan yang dituntunkan oleh Al-Qur'an sendiri, yaitu dengan
kata-kata qul inna shalâti wanusukî wamah yâya wamamâti lillahi rabbil
'alamîn, lâ syarîkalahu wabidzâlika umirtu wa ana awwalul muslimîn.
Inilah deklarasi kehidupan
seorang muslim, "Sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidupku dan matiku,
aku persembahkan semata-mata lillahi rabbil 'alamin, kepada Allah Tuhan
sekalian alam, tiadak ada sekutu baginya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku
ini termasuk orang-orang yang berserah diri. Orang yang sudah mempunyai
komitmen utuh kepada Tuhan, apalagi sudah mendeklarasikan kehidupan ini seperti
itu, maka akan melihat dunia ini menjadi satu panggung kehidupan yang jelas,
bening, mudah, tidak ruwet, tidak pathing penthalit, karena kacamata
tauhid. Keempat, kita berusaha menerjemahkan keyakinan kita menjadi
kongkrit, menjadi satu sikap budaya untuk mengembangkan amal shaleh. Al-Qur'an
ada ratusan ayat yang menggandengkan antara alladzina âmanu dengan wa'amilush
shâlihât. Jadi iman dan amal sholeh bergandengan sangat dekat, seolah-olah
hampa kosong iman seseorang kalau tidak ada amal sholeh yang menyertainya, yang
secara kongkrit membuktikan bahwa ada iman di dalam hatinya.
Jadi manifestasi tauhid, deklarasi kehidupan dari tingkatan keempat ini adalah sikap budaya,
sikap mental, dan kehidupan untuk menyebarkan amal sholeh dalam setiap
kesempatan, Sehingga ciri orang Islam, ciri orang yang bertauhid, kapan dan
dimana saja ia hidup, harus mengerjakan amal sholeh. Kelima, orang yang
bertauhid mengambil kriteria atau ukuran baik dan buruk, ukuran yang terpuji
dan tercela atau terkutuk, kembali kepada tuntunan ilahi.[6]
Menurut Islam
“ilmu pengetahuan” adalah sebuah kata yang kharismatis. Ia mengandung segala
kemaslahatan umat manusia bahkan dengan ilmu, mereka menjadi lebih utama
daripada para malaikat, dan dengan ilmu pula mereka berhak menjadi khalifah
Allah swt.di muka bumi.
Ilmu
pengetahuan adalah sarana untuk mengenal Tuhan pencipta mengetahui berbagai
macam benda dan kekuatan alam serta mampu menjinakkan dan menggunakan untuk
kesejahteraan umat manusia.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
اطلبواالعلم من المهد الى اللحد
Artinya
: “Carilah kalian semua ilmu sejak dari lahir sampai keliang lahad”
Hadits diatas
jelas, islam memerintahkan kita untuk tidak putus asa dalam mencari ilmu
walaupun sudah lanjut usia (tua), jadi tidak ada alasan seseorang untuk
berhenti mencari ilmu. Ilmu juga dapat menentukan seseorang sukses atau tidak
dimasa yang akan datang dan di akhirat. Dalam hadits menyebutkan bahwa mencari
ilmu itu hukumnya adalah wajib:
Perintah yang sangat mendasar yang terdapat
dalam ajaran Islam adalah mengesakan Tuhan dan cegahan melakukan tindakan
syirik. Tauhid dan syirik adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, meskipun
antara yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda.
Perintah mengesakan Tuhan mengandung arti bahwa
manusia hanya boleh tunduk kepada Tuhan. Ia tidak boleh tunduk pada selain-Nya
karena ia adalah puncak ciptaan-Nya. Karena ia hanya boleh tunduk kepada Tuhan,
manusia oleh Allah dijadikan sebagai khalifah (Al-baqarah : 30). Karena manusia
adalah khalifah di bumi, maka alam selain manusia ditundukkan oleh Allah untuk
manusia seperti firman Allah dalam Ibrahim : 32-33, An-Nahl :12-13.
Firman Allah di atas, menunjukkan bahwa bumi,
langit, laut serta segala yang ada dibumi dan laut telah ditundukkan Allah
untuk kepentingan manusia. Apabila tunduk kepada selain ALlah, berarti manusia
telah menyalahi fungsinya sebagai khalifah, tunduk kepada alam berarti tunduk
kepada selain Allah, tunduk kepada selain Allah berarti syirik (mempersekutukan
Allah).
Dengan demikian, tauhid mendorong manusia untuk
menguasai dan memanfaatkan alam karena sudah dituntukkan untuk manusia.
Perintah mengesakan Tuhan di barengi dengan cegahan mempersekutukan Tuhan. Jika
manusia mempersekutukan Tuhan, berarti ia dikuasai oleh alam, padahal manusia
adalah yang harus menguasai alam karena alam telah ditundukkan oleh Allah.
Konsekuensi dari tauhid adalah bahwa manusia
harus menguasai alam dan haram tunduk kepada alam. Menguasai alam berarti
menguasai hukum alam dan dari hukum alam ini, ilmu pengetahuan dan teknologi
dikembangkan. Dengan demikian, sumbangan atau peran Islam dlaam kehidupan
manusia adalah terbentuknya suatu komunitas yang berkecenderungan progresif,
yaitu suatu komunitas yang dapat mengendalikan, memelihara dan mengembangkan
kehidupan melalui pengembangan ilmu dan sains. Penguasaan dan pengembangan
sains bukan saja termasuk alam saleh, melainkan juga bagian dari komitmen
keimanan kepada Allah.
Sayang, yang terjadi saat ini didunia Islam
adalah kebodohan, kejumudan dan kemiskinan yang tiada henti-henti, padahal
konsep tentang tauhid saja bisa membuat umat Islam menjadi umat yang maju.
Sumber
utama ilmu tauhid ialah ajaran wahyu seperti yang terkandung dalam kitab suci
al-Quran, surah Al-Ikhlas : 1- 7 yang Artinya :
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha
Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan,
4. Dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.[7]
Terdapat
dua prinsip dan sistem nilai budaya dalam peradaban Islam:[8]
Pertama, wahyu (al-Qur'an dan al-Sunnah) sebagai sumber dan kekuatan
peradaban Islam.
Kalam-kalam Allah dalam wahyu yang mendorong umat Islam untuk
berperadaban dan berkebudayaan adalah :
a.
Agama
Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat,
menyuruh manusia mempergunakan akal untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam
(QS. Ali Imran [3]: 189-190)
b.
Agama
Islam mewajibkan tiap-tiap pemeluknya, laki-laki dan perempuan untuk menuntut
ilmu (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)
c.
Agama
Islam melarang orang untuk bertaklid, menerima sesuatu sebelum diperiksa,
walaupun dari ibu bapak dan nenek moyang sekalipun (QS. Bani Israil [17]: 36)
d.
Agama
Islam mengerahkan pemeluknya supaya
selalu mengadakan sesuatu yang belum ada, merintis jalan yang belum ditempuh,
membuat inisiatif dalam keduniawian yang memberi manfaat untuk masyarakat.
e.
Agama
Islam menyuruh pemeluknya mencari
keridhaan dan kerelaan Tuhan dengan semua nikmat yang telah diterimanya, dan
menyuruh mempergunakan hak-hak keduniawian dalam pimpinan dan peraturan agama.
(QS. al-Qashash [28]:77)
f.
Agama
Islam menggemarkan pemeluknya supaya pergi meninggalkan kampung halaman,
berjalan ke negeri lain, menghubungkan silaturrahmi dan kerjasama dengan bangsa
dan golongan lain, saling bertukar pikiran dan pandangan dan perasaan (QS.
al-Qashash [28]: 77)
g.
Agama
Islam juga memerintahkan untuk melakukan seleksi terhadap kebenaran walaupun
datangnya dari kaum yang berlainan bangsa dan kepercayaan. (QS. Thâhâ [20]:
17-18)[9]
Menurut tokoh ahli sains Einsten berpendapat bahwa ilmu pengetahuan
(sains) dan agama tidak seharusnya dipisahkan. Agama memerlukan sains dan sains
memerlukan agama. Tanpa sains agama akan menjadi buta, artinya sains mempunyai
peranan penting untuk membantu kebenaran dan kejayaan agama. Sehinga kedudukan
agama menjadi lebih kuat dan kokoh apabila umat penganut agama itu intelektual
yang tinggi.
Menurut AL- Ghozali,” semua ilmu yang betul membawa kepada tujuan, sebagai
kewajiban suci yang termasuk dalam kewajiban-kewajiban agama. Cukup jelas apa
bila sains tanpa agam akan menghasilkan sesuatu yang menimbulkan kekacauan.
Agama adalah pembimbing ilmu pengetahuan yang sifatnya selalu berkembang. [10]
Hal ini
dikarenakan kebenaran tunggal datang dari Allah
alam dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dengan demikian,
kedua sumber ilmu pengetahuan, baik ayat kauniyah maupun ayat qouliyah memiliki posisi
yang penting dalam mencapai kebenaran.Prinsip ini menopang prinsip kedua,
karena ayat-ayat Allah selalu benar sehingga tidak ada kontradiksi antara
keduanya. Jika belum terjadi ketidaksesuaian, maka kesalahan terletak pada
manusia dalam memformulasikan ayatkauniyah atau dalam
melakukan interpretasi ayat qouliyah.Bukan pada ayat-ayat itu sendiri. Sejak adanya agama Islam dimuka bumi ini selalu memberi perhatian
pada kesombongan hidup. Islam
tampil sebagai agama yang mengajarkan
ketahui dan untuk mencapai pemahamman tauhid maka tidak lepas dari pemikiran
ilmu pengetahuan. Sehingga adanya keajiban dalam mengemukakan konsef-konsef
tauhid yang berasaskan kajian saintifik.
Lebih lanjut Norchalish Madjid
menjelaskan tentang hubungan organik antara iman/tauhid dan ilmu sebagai bagian dari
peradaban Islam. Menurutnya ilmu adalah hasil
pelaksanaan perintah Tuhan untuk
memperhatikan dan memahami alam raya
ciptaannya, sebagai manifestasi atau penyikapan tabir akan rahasia-Nya. Garis argumentasi ini
dijabarkan oleh Ibnu Rusy, seorang
filosof muslim yang karya-karyanya mempengaruhi
dunia pemikiran Eropa yang mendorongnya kezaman renaisans. Dalam
makalahnya yang sangat penting, fash al-maqol wa taqrir ma Bain al-hikmah al-Syari'ah min
al-Ittishal. Ia menyebutkan bahwa antara iman dan ilmu tidak
terpisahkan, meskipun dapat
dibedakan. Dikatakan tidak terpisah
karena iman tidak saja mendorong bahkan
menghasilkan ilmu, tetapi juga membimbing ilmu
dalam bentuk pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya. Meskipun
demikian, ilmu berbeda dari iman, karena ilmu berstandar dari pada observasi terhadap alam dan disusun melalui proses penalaran
rasional atau berfikir, sedangkan iman berstandar pada sikap membenarkan atau mendukung pembenaran berita yang dibawa
oleh para pembawa berita atau mereka yang disebut Nabi yang menyampaikan berita
tersebut kepada manusia selaku utusan Allah. Memang benar dalam iman juga
tersangkut penalaran rasional atau penggunaan akal, tetapi hal ini hanya
menyangkut proses pertumbuhannya. Objek iman itu sendiri, seperti kehidupan
sesudah mati, berada diluar jangkauan pengalaman empiris manusia sehingga tidak
ada jalan untuk menerima adanya kehidupan sesudah mati itu, kecuali dengan
mempercayai berita yang disampaikan oleh para rasul.
Jagad raya mempunyai peranan penting bagi manusia karena nilainya
sebagai sesuatu yang diciptakan untuk menopang kebahagiaan hidup manusia. Jagad
raya disebut 'alam, karena fungsinya sebagai pertanda kebesaran sang Khalik,
yang merupakan penyingkap sebagian dari
rahasia-Nya. Jadi jagad raya disebut 'alam karena ia adalah manifestasi
Tuhan. Maka Tuhan adalah sumber pengetahuan manusia melalui wahyu lewat para
rasul dan nabi yang harus diterima (dengan iman) dan dipelajari. Sebab manusia
diciptakan sebagai makhluk yang terbaik dan dengan begitu, secara logis jagad
raya pun diciptakan dengan tingkat yang lebih rendah daripada manusia.[11]
Hanya saja tidak semua manusia dapat membaca[12]
tanda-tanda atau alamat yang sudah diberikan Tuhan. Madjid menambahkan bahwa
manusia yang akan mampu menangkap berbagai tanda Tuhan dalam alam raya adalah :
1). Mereka yang berfikir
mendalam (ulul albâb)[13]
2). Mereka yang memiliki
kesadaran tujuan dan makna hidup abadi;
3). Mereka yang menyadari
penciptaan alam raya sebagai
manifestasi wujud trancendent;
4). Mereka yang berpandangan
positif dan optimis terhadap alam raya, menyadari bahwa kebahagiaan dapat hilang karena pandangan negatif-pesimis
terhadap alam.
PENUTUP
Disamping itu,
ada pengertian tauhid rububiyah, dalam arti bahwa Allah Rab, Tuhan, yang
memperhatikan, take cere, mengatur, menyantuni, memberi supervisi secara
detail, dan teliti terhadap segala makhluk yang telah diciptakannya. Dengan
kata lain, sesunguhnya setiap makhluk yang kelihatan ataupun yang tidak, selama
hidupnya berada dalam suvervisi, dalam pengawasan dan penanganan Allah.
Ilmu
pengetahuan adalah sarana untuk mengenal Tuhan pencipta mengetahui berbagai
macam benda dan kekuatan alam serta mampu menjinakkan dan menggunakan untuk
kesejahteraan umat manusia.
Hal ini dikarenakan kebenaran tunggal datang dari Allah swt. Alam
dan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kedua sumber
ilmu pengetahuan, baik ayat kauniyah maupun ayat qouliyah memiliki posisi yang penting dalam mencapai kebenaran.Prinsip ini
menopang prinsip kedua, karena ayat-ayat Allah selalu benar sehingga tidak ada
kontradiksi antara keduanya. Jika belum terjadi ketidaksesuaian, maka kesalahan
terletak pada manusia dalam memformulasikan ayatkauniyah atau dalam
melakukan interpretasi ayat qouliyah.Bukan pada ayat-ayat itu sendiri.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman
yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Rais, Tauhid Sosial: Formula Mengempur Kesenjangan,
Bandung: Mizan, 1998:107.
Departemen Agama RI., Al-Quran
dan Terjemah, Surabaya: Mekar Surabaya, 2004, h, 922.
Norchalish Madjid, Islam, Ilmu Pengetahuian dan Teknologi
(Hubungan Organic Ilmu dan Iman dalam Islam, serta Pandangan Kritis Sekilas
atas Keadaan Iptek Dunia Islam Masa Kini", Makalah disampaikan dalam
salah satu seminar di IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung, 1998
Quraish Shihab, Wawasan Al Qur'an,
Bandung: Mizan, 1999
Zainudidn, dkk., Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Gazali,
Jakarta: Bumi Aksara, 1991, h, 87
Internet
[1]Amin
Rais, Tauhid Sosial: Formula Mengempur Kesenjangan, Bandung: Mizan,
1998:107.
[2] QS.
al-Shâf [6]: 18
[3] QS.
al-Hujurat, [13]: 13
[4] Amin
Rais, Tauhid Sosial …, hlm. 109
[6] Ibid.,
hlm. 38-42.
[7]
Departemen Agama RI., Al-Quran dan Terjemah, Surabaya: Mekar
Surabaya, 2004, h, 922
[8]
Hidayat, Tauhid Sosial…, hlm. 41-42
[9]
Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam : Pokok-Pokok Pikiran Islam dan Umat
nya, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 1993, Cet. Iv, hlm. 136.
[11]Norkhalish
Madjid, Islam, Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (Hubungan Organik Ilmu dan Iman dalam Islam, serta Pandangan Kritis
Sekilas atas Keadaan Iptek Dunia Islam Masa Kini", Makalah disampaikan
dalam salah satu seminar di IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung , 1998, hlm. 2
[12]Didalam menafsirkan surat al-Alaq ayat 1-5, Quraish Shihab, mengatakan bahwa Iqra berarti bacalah,
telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda
zaman, sejarah maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak.
Selanjutnya ia menyatakan bahwa pengulangan kata iqra (membaca) dalam
wahyu pertama bukan sekedar menunjukan bahwa kecakapan membaca tidak akan
diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan
sampai batas maksimal kemampuan. Tetapi juga mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi rabbika(
demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang
dibaca obyeknya sama. Pengetahuan akan diperoleh melalui obyek pengajaran Allah
kepada manusia melalui perantaraan qalam (lukisan /goresan) Allah yang berwujud
alam semesta dan isinya dan pengajaran Allah melalui wahyu (Al-Qur'an) yang
disampaikan oleh rasul Muhammad SAW. Lebih lanjut menurut Quraish Shihab dari
6236 ayat Al-Qur'an ada sekitar 750 ayat yang berkenaaan dengan alam semesta
ini untuk diperhatikan. ". Lihat dan Baca Quraish Shihab, Wawasan
al-Qur'an, Bandung ,
Mizan 1999, p. 433-434
[13]Tanda-tanda ulul albâb adalah 1)
bersungguh-sungguh mencari ilmu, 2) mampu memisahkan yang jelek dan yang baik,
kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan
kebaikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan orang banyak, 3) kritis
dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori
proposisi atau dalil yang dikembangkan oleh orang lain dan 4) bersedia
menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya,
bersedia memberikan peringatan kepada masyarakat dan 5) tidak takut kepada
siapapun kecuali kepada Allah. Lihat dan baca Jalauddin Rahmat, Islam
Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), cet. IV. p. 213-215
Komentar
Posting Komentar