Langsung ke konten utama

makalah


Tes merupakan salah satu bentuk instrumen dalam penilaian penguasaan kompetensi baik berkaitan dengan kinerja atau keterampilan dan pemahaman konsep. Kinerja atau keterampilan dapat berupa keterampilan yang murni psikomotor, gabungan psikomotor dan kognitif. Kinerja dalam aspek kognitif yang tertinggi adalah kemampuan berkreasi. Penyusunan instrumen tes melalui prosedur yang berurutan. Prosedur penyusunan instrumen tes untuk tes hasil belajar mencakup tahapan (1) menentukan standar kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) menentukan indikator pencapaian Kompetensi Dasar, (3) menyusun kisi-kisi tes, (4) menulis item tes berdasarkan kisi-kisi, (5) melakukan telaah item tes, (6) mengujikan soal pada peserta didik, (7) analisis hasil tes, dan (8) merevisi soal tes.

1.      Analisis secara kualitatif, prosedur peningkatan secara judgement, terkait dengan isi dan bentuk soal
2.      Analisis secara kuantitatif, prosedur peningkatan secara empirik, terkait dengan ciri-ciri statistiknya
A.    Analisis Kuantitatif
1.      Tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran (difficulity index) atau kita singkat TK dapat didefinisikan sebagai proporsi siswa peserta tes yang menjawab benar (crorcker dan Algina,1986:311). Definisi itu dapat dinyatakan dengan sebuah rumus dimana TK adalah jumlah peserta yang menjawab benar dibagi dengan jumlah peserta.

TK=
Σ B
Σ P

Keterangan:
TK=tingkat kesukaran
∑B=jumlah siswa yang menjawab benar
∑P=jumlah siswa peserta tes

Misalnya:
dari 10 siswa yang mengikuti uji coba THB, pada butir 1 terdapat 7 orang dapat menjawab benar dan pada butir2 terdapat 2 orang dapat menjawab benar. Berapakah tingkat kesukaran kedua butir soal tersebut?

                 7
TK (1) = --- = 0,70.
                10

                 2
TK (2) = --- = 0,20.
                10

Nilai TK butir merentang antara 0 sampai1 TK sebuah butir sama dengan nol terjadi bila semua peserta tidak ada yang menjawab benar, sebaliknya Tk sebuah butir akan sama dengan 1(satu) apabila semua peserta menjawab benar pada butir tersebut. Semakin tinggi indeks TK maka butir soal semakin mudah.Dalam THB, TK butir-butir soal diusahakan sedang. Kalau butir soal terlalu mudah atau terlalu sukar bagi dua atau lebih peserta maka sekor tidak lagi dapat membedakan kemampuan para peserta sekiranya di antara mereka terdapat perbedaan kemampuan. Butir yang sangat sukar sehingga tidak ada siswa yang dapat menjawab dengan benar menyebabkan butir tersebut kehilangan kemampuannya membedakan siwa yang mempunyai kemampuan tinggi dan rendah. Begitu pula dengan butir yang sangat mudah sehingga semua peserta dapat menjawab benar. Oleh karenanya, butir sebaiknya mempunyai TK yang sedang.
TK butir yang sedang berada dalam suatu rentang nilai TK. Kriteria untuk menentukan rentang untuk TK sedang sangat tergantung jumlah kategori yang diinginkan. Misalnya kategori TK meliputi sukar, sedang dan mudah maka kriteria sedang adalah antara 0,33 sampai 0,66. Berikut pembagian kategori TK ke dalam tiga kelompok:

Rentang TK
Kategori
0,00 – 0,32
Sukar
0,33 – 0,66
Sedang
0,67 – 1,00
Mudah

Namun, bila TK di klasifikasikan ke dalam lima kelompok: sangat sukar ,sukar ,sedang ,mudah dan sangat mudah, maka butir soal di katakana mempunyai TK sedang bila indeks TK berada antara 0,40-0,59. Secara keseluruhan pembagian rentang TK diatur sebagai berikut :

Rentang TK
Kategori
0,00 – 0,19
Sangat sukar
0,20 – 0,39
Sukar
0,40 – 0,59
Sedang
0,60 – 0,79
Mudah
0,80 – 1,00
Sangat mudah

Dalam beberapa situasi,TK butir soal tidak di usahakan sedang. Pada keadaan di mana diinginkan sebanyak mungkin peserta tes dapat di nyatakan lulus maka butir di usahakan sangat mudah, missal nya penerimaan siswa di mana diperkirakan jumlah daya tampung lebih banyak daripada pelamar yang mendaftar.Sebaliknya, pada keadaan diinginkan peserta tes sekecil mungkin dapat dinyatakan lulus, maka butir soal di usahakan sesukar mungkin.

Daya pembeda (discriminating power) atau kita singkat DB adalah kemampuan butir soal THB membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dan rendah. DB berhubungan dengan derajat kemampuan butir membedakan dengan baik perilaku pengambil tes dalam tes yang di kembangkan (anstasi dan urbina ,1997:179). DB harus di usahakan positif dan setinggi mungkin. Butir soal yang mempunyai DB positif dan tinggi berarti butir tersebut dapat membedakan dengan baik siswa kelompok atas dan bawah. Siswa kelompok atas adalah kelompok siswa yang tergolong pandai atau mencapai skor total hasil belajar yang tinggi dan siswa kelompok bawah adalah kelompok siswa yang bodoh atau memperoleh skor total hasil belajar yang rendah. DB itu dapat di tentukan basarannya dengan rumus sebagai berikut:

DB = PT – PR

Atau

DB =
Σ T B   Î£ R B
Σ T       Σ R

Keterangan:
PT = proporsi siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan  tinggi.
PR = proporsi siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah.
∑TB = jumlah peserta yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.
∑T = jumlah kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.
∑RB = Jumlah peserta yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah.
∑R = jumlah siswa yang mempunyai kemampuan rendah.

Sebagai sebuah penjelasan di berikan contoh sebagai berikut :
Sebanyak 10 orang mengikuti uji coba  THB berbentuk objektif dengan hasil sebagai berikut:

Siswa
Butir soal
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10
B
0
1
0
0
1
0
0
1
0
0
3
C
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
8
D
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
9
E
0
0
0
1
1
1
0
0
0
1
4
F
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
9
G
0
0
1
1
0
1
1
0
1
0
5
H
0
1
0
0
0
1
0
0
0
1
3
I
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
2
J
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10

Perhitungan DB dapat di lakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Menentukan suswa kelompok atas dan bawah. Kelompok atas adalah setengah kelompok siswa (5 orang) yang mamperoleh skor terendah. Penentuan kelompok atas dan kelompok bwah dapat di sajikan dalam tabel berikut:

Kelompok atas
Kelompok bawah
Siswa
Skor
Siswa
Skor
A
10
B
3
C
8
E
4
D
9
G
5
F
9
H
3
J
10
I
2

b.      Menghitung perolehan sekor butir pada kelompok atas dan kelompok bawah.

Kelompok atas
Siswa
Butir soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
C
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
D
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
F
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
J
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah
5
2
5
4
5
5
5
5
5
4

Kelompok bawah
Siswa
Butir soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B
0
1
0
0
1
0
0
1
0
0
E
0
1
0
1
1
1
0
0
0
1
G
0
1
1
1
0
1
1
0
1
0
H
0
1
0
0
0
0
0
0
1
1
I
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Jumlah
1
4
1
2
2
2
1
1
2
2

c.       Menghitung DB
DB dihitung sebagai mana rumusnya sebagai berikut:
·         Butir 1
DB (1) =
5
-
1
=
4
= 0,80
5
5
5

·         Butir 2
DB (2) =
2
-
4
=
2
= - 0,40
5
5
5

Sebuah butir THB yang baik adalah butir soal yang mempunyai DB positif dan signifikan. DB akan positif apabila jumlah siswa kelompok atas yang dapat menjawab dengan benar lebih banyak dari pada jumlah siswa kelompok bawah. DB yang signifikan dimaksudkan sebagai mempunyai indexs minimal +0,30 yang artinya pada butir yang baik jumlah siswa kelompok atas yang dapat menjawab benar minimal 30% lebih banyak dari pada jumlah siswa kelompok bawah yang dapat menjawab benar.

Nilai DB akan merentang antara -1,00 hingga +1,00. Dengan mengambil contoh soal diatas, beberapa kondisi ekstrim dapat di jelaskan sebagai berikut:
a)      Bila semua siswa kelompok atas dapat menjawab benar dan semua siswa kelompok bawah  menjawab salah,makaDB akan +1,00.

 DB =
5
-
0
= + 1,00
5
5

b)      Bila semua siswa kelompok atas dapat menjawab salah dan semua siswa kelompok bawah menjawab benar,maka DB -1,00.

 DB =
0
-
5
= - 1,00
5
5

c)      Bila baik siswa kelompok atas maaupun kelompok bawah dpat menjawab dengan benar maka DB akan 0,00.

DB =
5
-
5
= 0,00
5
5

d)     Bila baik siswa kelompok atas maupun kelompok bawah menjawab salah maka DB akan 0,00.

DB =
0
-
0
= 0,00
5
5

Berdasar nilai rentang DB diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1)      Bila semua siswa baik kelompok atas maupun kelompok bawah sama-sama menjawab benar atau sama-sama menjawab salah maka butir soal tidak mempunyai kemampuan membedakan yang ditunjukkan oleh DB=0,00.
2)      Bila siwa kelompok atas yang dapat menjawab benar lebih banyak dari pada kelompok bawah yang menjawab benar maka DB akan positif.
3)      Bila siswa kelompok atas yang dapat menjawab benar lebih sedikit dari pada kelompok bawah yang menjawab benar maka DB akan negative.
4)      Butir soal mempunyai DB tinggi apabila siswa kelompok atas yang dapat menjawab benar lebih banyak dibandingkan siswa kelompok bwah yang dapat menjawab benar dengan perbandingan tertentu hingga DB minimal +0,30.

Dalam menghitung DB terdapat beberapa kejadian khusus yang harus diperhatikan:
a.   Bila data di tengah sama maka data yang sama di keluarkan dari analisis. Misalnya: data skor hasil belajar enam orang siswa di urutkan dari tinggi ke rendah adalah sebagi berikut: 10, 9, 7, 7, 4 dan 2. Data skor yang sama adalah 7 dan di keluarkan dari analisis, sehingga perhitungan DB melibatkan siswa yang memperoleh skor 10 dan 9 sebagai kelompok atas dan siswa yang memperoleh skor 4 dan 2 sebagi kelompok bawah.
b.   Dalam hal jumlah siswa uji coba sangat banyak maka penentuan kelompok atas dan bawah adalah dengan mengambil 27% siswaa yang memperoleh skor tertinggi sebagai kelompok atas dan 27% siswa yang memperoleh skor terendah sebagai kelompok bawah. Sebanyak 46% siswa di tengah distribusi di keluarkan dan tidak di analisis. Perhitungan daya beda butir di dasarkan pada “aturan 27%”. Menurut Kelly, pada kondisi normal, titik optimum di mana dua kondisi seimbang di capai pada 27% kelompok atas dan bawah (Anastasi dan Urbina, 1997: 182).

Perhitungan DB butir juga dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir dengan skor total. Korelasi butir dengan total menunjukkan kesejajaran nilai antara butir dengan total. Bila skor butir bervariasi sejalan dengan variasi skor total maka butir tersebut mampu membedakan dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dan rendah. Butir di katakan mempunyai DB yang tinggi apabila korelasi butir itu dengan total minimal +0,30. Adapun korelasi antara butir dengan total dapat di lakukan menggunakan rumus product moment, biserial, poin biserial. Phi atau tetrakorik (Crocker dan Algina, 1986: 317-319).
Analisis butir juga dilakukan dengan meperhatikan pengecoh. Pengecoh (distractor) yang juga dikenal dengan istilah penyesat atau penggoda adalah pilihan jawaban yang bukan merupakan kunci jawaban. Pengecoh bukan sekedar pelengkap pilihan. Pengecoh diadakan untuk menyesatkan siswa agar tidak mememilih kunci jawaban pengecoh menggoda siswa yang kurang begitu memahami materi pelajaran untuk memilihnya. Agar dapat melakukan fungsinya untuk mengecoh maka pengecoh harus dibuat semirip mungkin dengan kunci jawaban.
Pengecoh dikatakan berfungsi efektif apabila paling tidak ada siwa yang terkecoh memilih. Pengecoh yang sama sekali tidak dipilih tidak  dapat melakukan fungsinya sebagai pengecoh karena terlalu mencolok dan dimengerti oleh semua siswa sebagai pengecoh soal. Pengecoh yang berdasarkan hasil uji coba tidak efektif direkomendasikan untuk diganti dengan pengecoh yang lebih menarik.

Contoh pengujian karasteristik butir
Sehubungan dengan analisis butir secara klasik dapat diberikan contoh sebagai berikut: THB uji coba adlah 10 butir soal tes obyektif pilihan ganda dengan empat pilihan. Jawaban 10 orang siswa uji coba dilaporkan hasilnyya sebagai berikut:

Siswa
Butir soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
B
D
C
D
B
B
C
A
C
D
B
B
C
C
A
B
A
C
A
B
C
C
C
D
A
D
A
D
D
B
C
B
D
D
B
A
A
C
B
A
A
C
A
E
A
C
B
B
A
C
D
C
D
B
F
A
D
B
A
D
B
D
B
C
B
G
C
D
D
C
A
D
A
A
C
A
H
B
D
B
A
B
C
D
A
C
D
I
D
D
D
B
C
D
A
C
D
B
J
B
D
A
B
C
D
D
A
C
B
Kunci
B
D
C
A
A
B
D
A
C
B

Dari sebaran jawaban tersebut, penghitungan skor uji coba dan analisis butir dapat diringkaskan dalam tabel sebagai berikut:

Siswa
Butir soal
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
1
1
1
0
0
1
0
1
1
0
6
B
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
4
C
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
5
D
0
0
0
1
0
1
0
1
1
0
4
E
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
3
F
0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
6
G
0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
4
H
1
1
0
1
0
0
1
1
1
0
6
I
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
2
J
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
6
ΣB
4
7
2
4
3
3
5
6
7
5
TK
0,40
0,70
0,20
0,40
0,30
0,30
0,50
0,60
0,70
0,50
DB
0,40
0,60
0
0
-0,20
0,20
0,60
0
0,60
0,20
EP
E
TE
E
E
E
E
E
E
E
E

Keterangan:
SB  = Jumlah siswa yang menjawab benar pada butir ke-I
TK  = Tingkat kesukaran
DB  = Daya beda
EP   = Efektivitas pengecoh
E     = Efektif
TE   = Tidak efektif

Bila ditetapkan kriteria untuk memberikan penelitian butir adalah sebagai berikut:
a.       TK butir harus sedang yaitu antara 0,33 sampai 0,66
b.      DB harus tinggi  yaitu minimal +0,30
c.       Pengecoh paling tidak seorang siswa ada yang memilih.

Berdasarkan ringkasan analisis butir pada tabel di atas  dan kriteria penilaian butir yang baik maka dapat ditarik kesimpulan:
a.       Butir 3, 5 dan 6 terlalu sukar
b.      Butir 3, 4, 5, 6, 8, dan 10 tidak mampu membedakan kemampuan siswa kelompok atas dan bawah.
c.       Pada butir 2 pengecoh A tidak efektif.

Perhitungan analisis butir itu selengkapnya dilakukan sebagai berikut:
1.      Tingkat kesukaran
      Misalnya TK butir 1 di hitung sebagai berikut:

    TK (1) =             
4
   = 0,40
10

2.      Daya beda
      Perhitungan DB dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
a.       Menentukan siswa kelompok atas dan bawah.

Kelompok atas
Kelompok bawah
Siswa
Skor
Siswa
Skor
A
6
B
4
C
5
D
4
F
6
E
3
H
6
G
4
J
6
I
2

b.      Menghitung perolehan skor tiap-tiap butir pada siswa kelompok atas dan bawah.

Kelompok atas
Siswa
Butir soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
1
1
1
0
0
1
0
1
1
0
C
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
F
0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
H
1
1
0
1
0
0
1
1
1
0
J
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
Jumlah
3
5
1
2
1
2
4
3
5
3

Kelompok bawah
Siswa
Butir soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
D
0
0
0
1
0
1
0
1
1
0
E
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
G
0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
I
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
Jumlah
1
2
1
2
2
1
1
3
2
2

c.       Menghitung DB butir.
Misalnya DB untuuk butir 1 dapat dihitung sebagai berikut:

DB (1) =
3
-
1
=
2
= 0,40
5
5
5

3.      Efektivitas pengecoh
Efektivitas pengecoh dapat dianalisis sebagaimana ditabulasikan dan sebagai contoh dianalisis tiga butir soal sebagai berikut:

Butir
Kunci
Pemilih
Pengecoh
Pemilih
Efektifitas pengecoh
1
B
4
A
C
D
2
2
2
Efektif
Efektif
Efektif
2
D
7
A
B
C
0
1
2
Tidak efektif
Efektif
Efektif
3
C
2
A
B
D
3
3
2
Efektif
Efektif
Efektif
Dan seterusnya




B.     Analisis Kualitatif
Penelaahan yang dimaksudkan dalam analisis kualitatif ini adalah untuk menganalisis soal ditinjau dari segi teknis, isi, dan editorial. Analisis secara teknis dimaksudkan sebagai penelaahan soal berdasarkan prinsip-prinsip pengukuran dan format penulisan soal. Analisis secara isi dimaksudkan sebagai penelaahan khusus yang berkaitan dengan kelayakan pengetahuan yang ditanyakan. Analisis secara editorial dimaksudkan sebagai penelaahan yang khususnya berkaitan dengan keseluruhan format dan keajegan editorial dari soal yang satu ke soal yang lainnya.
Analisis kualitatif lainnya dapat juga dikategorikan dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis materi dimaksudkan sebagai penelaahan yang berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam soal serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan soal. Analisis konstruksi dimaksudkan sebagai penelaahan yang umumnya berkaitan dengan teknik penulisan soal. Analisis bahasa dimaksudkan sebagai penelaahan soal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut EYD.
Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan (tes tertulis, perbuatan, dan sikap)
Aspek yang ditelaah : segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya
Bahan penunjang : bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia.

1.      Teknik analisis
Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli dan dimoderatori oleh satu orang.
Kelebihan : Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa
Kelemahan : Teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.
2.      Teknik panel
Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.
Berikut contoh check list analisis kualitatif:
1.      Materi
a.       Tes sesuai indicator
b.      Pilihan jawab homogen dan logis
c.       Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat

2.      Konstruksi
a.       Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas
b.      Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban
c.       Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban
d.      Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda
e.       Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi \
f.       Panjang rumusan jawaban relative
g.      Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban di atas salah” atau “semua jawaban di atas benar”.
h.      Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis
i.        Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya

3.      Bahasa
a.       Tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
b.      Tes menggunakan bahasa yang komunikatif
c.       Tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat
d.      Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tes merupakan salah satu bentuk instrumen evaluasi untuk mengukur seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai pokok-pokok materi yang sudah diajarkan, untuk itu seorang guru harus melakukan tes kepada peserta didik setiap pemberian materi yang telah dianggap selesai untuk mengetahui apakah dia bisa menerima atau memahami materi yang sudah diberikan oleh seorang guru.
Ada dua bentuk tes yang digunakan, antara lain tes standar dan tes buatan guru. Tes terstandar adalah tes yang disusun oleh suatu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Sedangkan tes buatan guru adalah tes yang dibuat seorang guru untuk merumuskan bahan dan tujuan khusus untuk kelasnya sendiri dan masih dalam ruang lingkup sekolah tempat dia mengajar.
Analisis soal antara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Dalam analisis soal ada dua cara, yaitu analisis secara kuantitatif dan analisis secara kualitatif.



DAFTAR PUSTAKA

Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar.2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muatan Lokal

TUGAS MUATAN LOKAL JUDUL LEGENDA PULAU KANAMIT  CERITA Inyusun Awi :                                             Rara Meida Putri                                       KATA P ENGANTAR Puji tuntang syukur Kehadiran Tuhan Yang maha Esa,awie rahmat en karunia-Nya lah Cerita Daerah kalimantan tenggah “ Bercerita Dalam  Bahasa Dayak Ngaju ” toh tau inyalasaikan tuntang bahalap. Dia ingalapean penulis ucapan tarima kasih kapada IbuSeptini Esterlin,S.T selaku guru Muatan Lokal je mambarikan bimbingan kapada panulis untuk menyelesaikan Cerita  toh serta semua pihak je telah membantu dalam penyusunan Cerita tuh. Hong Cerita toh tege babarapa tanding tu...

resume teologi

Asal Usul Aswaja a.        Apa Definisi Aswaja ? b.       Siapa pendiri Aswaja ? c.        Siapa saja kelompok/tokoh Aswaja ? Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan jamaah berarti sahabat Nabi. Jadi Ahlussunnah waljamaah mengandung arti penganut sunnah (iktikad) Nabi dan para sahabat beliau. Tokoh utama sekaligus pendiri mazhab ini adalah Abu al Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. ( Buku Ilmu Tauhid : Drs. H.M Yusran Asmuni ) Ahlussunnah Wal Jamaah atau yang biasa disingkat dengan ASWAJA secara bahasa berasal dari kata Ahlun yang artinya keluarga, golongan atau pengikut. Ahlussunnah berarti orang-orang yang mengikuti sunnah (perkataan, pemikiran atau amal perbuatan Nabi Muhammad SAW). Sedangkan al Jama’ah adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Jika dikaitkan dengan madzhab mempunyai arti sekumpulan orang yang berpegang teguh pada salah sat...

RPP K-13

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah                                  : MTs Darul Amin Kelas / Semester                    : VII (Tujuh ) / I (Satu ) Materi Pokok                         : IPA Terpadu  Sub materi                             : Perpindahan Kalor Alokasi Waktu                      :  4× 40 Menit A.     Kompetensi In...